Perlukah Anak Belajar Bahasa Asing Sejak Dini?

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 7.8/10 (15 votes cast)

Perlukah Anak Belajar Bahasa Asing Sejak Dini?

Saya pernah berpengalaman dalam dunia pendidikan, saat itu saya menjadi salah satu wakil kepala sekolah di sekolah yang berumur sudah lebih dari 60 tahun. Ya, sekolah itu sudah mendidik lebih dari 3 generasi (mulai dari kakek sampai cucunya pernah bersekolah di sekolah tersebut). Sekolah national plus ini mendidik dan membuka mata saya tentang arti pendidikan. Untuk saat ini, saya hanya akan fokus pada bahasan kita yaitu bahasa.

Banyak orangtua (termasuk istri saya), bingung mau menyekolahkan anaknya sedini mungkin dan kalo bisa sekolah itu mengajarkan bahasa asing (ingris) dan aseng (mandarin). “Karena memang trendnya begitu dan kita punya uang masak tidak kasih anak yang terbaik, gimana menurut Pak Tim?” Tanya seorang Ibu muda kepada saya.

Baiklah, apa yang saya sampaikan disini adalah pendapat saya murni dari pembelajaran saya selama lebih dari 8 tahun. Menurut saya sebaiknya ajarkan Bahasa Ibu (Bahasa Indonesia) kepada anak kita yang hidup di Indonesia. Mengapa? Agar mereka memiliki pemahaman yang baik dan dasar yang kuat untuk berkomunikasi, dan ini penting sekali bagi anak. Komunikasi merupakan jembatan untuk mengungkapkan emosi atau “uneg-uneg” perasaan yang ada dihati dalam dirinya, jika ia tidak dapat mengungkapkan emosinya melalui kata-kata (dia tidak tahu mau ngomong apa, karena kosa kata dikepalanya terbatas) maka ini bisa menjadi Mental Block (Hambatan Mental) yang dapat mengganggu pencapaiannya saat anak tersebut dewasa. Sekali lagi fokuskan kepada Bahasa Ibu, apalagi jika Anda dirumah dan orang disekitar rumah menggunakan Bahasa Indonesia.

Memang ada banyak teori yang mengatakan usia 0-3 tahun adalah usia “Golden Age” dimana otak anak seperti spons yang menyerap air. Semua informasi bisa masuk dengan mudahnya, apa yang dipelajari diserapnya dengan mudah. Memang banyak pilihan, mau diajarkan apa saja bisa masuk. Mau diajarkan Bahasa Asing bisa, mau diajarkan berhitung, menghafal nama pemimpin negara sedunia juga bisa. Saran saya di usia seperti itu ajarkanlah disiplin dan budi pekerti, sopan santun dan nilai–nilai kehidupan. Banyak penelitian dari ahli-ahli perkembangan anak menunjukan hasil, tidak ada beda yang mencolok kepintaran atau prestasi antara anak yang diajarkan berhitung, bahasa asing dan menulis sejak usia dini dengan anak yang memang sudah saatnya diajarkan (rentang usia 5,5-8 tahun). Jadi hasilnya tidak signifikan alias sama saja, jika sama saja mengapa tidak mulai menata sikap mental anak sejak dini?

Setahu saya, beberapa sekolah sekarang untuk masuk kelas 1 SD harus sudah bisa baca tulis. Beda dengan kita dahulu, SD baru belajar baca tulis. Jujur, sebagai orangtua kita melihat perkembangan jaman dan tantangan jaman sekarang ini berbeda dengan sewaktu kita masih kecil. Apalagi banyak sekali dengan kurikulum luar yang sudah masuk ke negara kita, sebagai orangtua kita yang menjadi bingung. Kita memang ingin memberikan yang terbaik untuk anak, tapi apakah kita tahu apa yang anak inginkan dan itu terbaik buat dirinya?

Kembali ke masalah bahasa, ini adalah kasus yang seakan sepele tetapi memiliki potensi untuk menjadi momok bagi perkembangan mental, lho? Ya, setiap kata memiliki nilai dan makna rasa yang berbeda. Misalnya, mana yang lebih nyaman bagi Anda: saya ingin bahagia atau saya layak bahagia? Umumnya pilihan ke 2 memiliki makna dan rasa yang lebih “nyaman” dihati. Selain itu dalam 1 hari manusia bebicara kepada dirinya sendiri sebanyak 70.000 kata, dan kata sebanyak itu tentunya sangat berpengaruh menentukan arah hidupnya. Ingat kualitas hidup manusia bergantung pada pemilihan kualitas kata dalam tata bahasanya. Untuk memiliki tata bahasa yang bagus tentunya perlu memiliki banyak database kosakata yang cukup banyak serta proses komunikasi itu sendiri.

Lha.. apakah seorang anak tidak boleh belajar bahasa asing sejak dini? Jawabannya adalah boleh, tapi sebaiknya tidak perlu dievaluasi atau dinilai. Berikan saja proses stimulasi atau “dipancing”, misal : “Budi, anjing dalam Bahasa Inggris disebut dog, kalo kucing apa ya? Inget kan?”. Lalu kapan sebaiknya proses evaluasinya? Sebaiknya dimulai di usia 12 tahun, dengan catatan diusia 0-12 tahun seorang anak telah dipupuk dengan baik harga dirinya dan konsep dirinya. Dijamin dia akan menjadi pembelajar yang tangguh.

Disamping itu, bahasa merupakan mental tools. Mental tools bermanfaat untuk mempelajari dan memahami konsep abstrak di bidang sains dan matemaika. Tanpa mental tools anak dapat menghafal dan mengeluarkan fakta-fakta saintifik dari memori mereka namun tidak bisa menerapkan pengetahuan ini untuk mencari solusi dari pertanyaan atau masalah yang mereka hadapi, yang sedikit berbeda dengan contoh yang telah mereka pelajari sebelumnya. Ide mengenai piranti pikir atau mental tools dikembangkan oleh Lev Vygotsky, psikolog Rusia (1896-1934), yang menjelaskan bagaimana anak mengembangkan kemampuan mental yang semakin kompleks.

Kemampuan berpikir abstrak dibutuhkan tidak hanya di sekolah namun juga dalam mengambil berbagai keputusan dalam banyak aspek kehidupan saat dewasa kelak, misalnya bagaimana membeli mobil, memilih investasi keuangan, berpikir level tinggi (analisa, sintesa dan evaluasi) termasuk juga membesarkan dan mendidik anak yang sudah tentu membutuhkan kematangan dalam kecakapan berpikir.

Bahasa adalah mekanisme untuk berpikir, suatu mental tool. Bahasa membuat berpikir menjadi lebih abstrak, fleksibel dan independen. Bahasa memungkinkan anak untuk membayangkan, memanipulasi, mencipta ide-ide baru dan berbagi ide dengan orang lain. Dengan demikian bahasa mempunyai dua fungsi utama, yaitu bahasa penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bahasa juga merupakan bagian dari proses berpikir.

Bahasa dapat digunakan untuk mencipta berbagai strategi untuk menguasai banyak fungsi mental seperti atensi, memori, perasaan dan pemecahan masalah. Bila kita tarik benang merahnya ke kehidupan dewasa, khususnya dalam aspek finansial, maka satu pertanyaan menarik dari Kevin Hogan layak kita simak, ”What is the difference between the top 20% of people who earn 80% of the money and the 80% of the people who earn 20% of the money?”

Jawabannya adalah:
- 20% orang itu adalah pakar di bidang komunikasi. Mereka tahu bagaimana mengajukan pertanyaan dan menemukan kebutuhan dan keinginan orang lain.
- Orang sukses adalah pakar di dua bidang. Pertama, di bidang pekerjaan yang mereka komunikasikan dengan sangat baik dengan orang lain. Kedua, komunikasi pada level pikiran bawah sadar mereka sendiri.

Salam

Timothy Wibowo

Comments are closed.